Showing posts with label Local Trip. Show all posts
Showing posts with label Local Trip. Show all posts

Tuesday, 3 July 2012

Pulau Weh: Pantai, Underwater, dan Kejayaan Kota Sabang Masa Lalu

*Memilih judul yang agak serius, supaya banyak yang baca ;p *
 
Sabang merupakan pelabuhan terpenting di Selat Malaka saat jaman kolonial, saat itu 50.000 kapal melalui pelabuhan ini setiap tahunnya. Keramaian di Pelabuhan Sabang adalah efek dari dibukanya terusan suez, kapal2 yg melewati benua afrika tidak lagi memutar melalui selat sunda tapi lewat Selat Malaka.

Awalnya Pelabuhan Sabang menjadi gudang Batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda, namun berkembang menjadi tempat sandarnya kapal-kapal dagang yang mengirim barang ekspor ke Pulau Sumatra. Pelabuhan Sabang sempat dijadikan sebagai pelabuhan bebas, sarana dan prasarana seperti dermaga, pelabuhan, gudang, supply bahan bakar pun didirikan, hingga akhirnya pada tahun 1986 fungsi pelabuhan bebas ini ditutup. Status darurat di Aceh membuat Pelabuhan Sabang semakin sepi.

Setelah Darurat Militer Aceh dicabut, Pulau Weh dan Sabang kembali ramai dan lebih dikenal sebagai objek wisata pantai dan underwater-nya.

Selama di Pulau Weh gw hanya beberapa jam mengelilingi Kota Sabang. Sisa-sisa kejayaan masa lalu masih tampak, khususnya di pusat kota. Banyak bangunan peninggalan Belanda, baik yang terawat maupun tidak terawat. Rumah Sakit, Teater, Benteng, jalan dan pohon-pohon besar menandakan Kota ini sebagai kota yang cukup ramai dijaman kolonial.

Dekat dengan Kota Sabang, terdapat Pantai Anoi Itam, Pantai yang menawarkan pemandangan Sunrise, pasir putih, dan view Banda Aceh dari kejauhan. Kawasan ini bisa dibilang kawasan high-class nya Sabang.

Sempat pula gw nyicip Sate Gurita (cuma satu gigitan, weksss) di Sabang Fair (kalo ga salah), dan Rujak khas Sabang.

Keunikan lain di Sabang, Toko-toko akan tutup antara pukul 11-16 sore, mungkin dipakai penduduknya untuk istirahat?

Fokus liburan gw bukan di Sabang, tapi di sisi barat pulau yang menawarkan keindahan pantai dan bawah laut. Gw menginap di salah satu Mess NGO yang terdapat di daerah Gapang.  Dari Gapang gw menumpang motor ke Pantai Iboih untuk snorkeling, dan sempat pula menyebrang ke Pulau Rubiah (10 menit dari Pantai Iboih). Dulu nya Pulau Rubiah merupakan karantina calon jamaah haji, makanya masih ada beberapa bangunan tak terawat di Pulau ini.

Oiyaa, dari Pelabuhan Balohan menuju Gapang, kalian bisa menikmati jalanan berkelok-kelok, naik turun bukit, dan view Pantai dari ketinggian. Lo juga akan bertemu Danau Aneuk Laut dan Kawanan Kera Liar (Seriusan liar...masa motor gw lewat mau diterkam! -__-)

Overall, perjalanan di Sabang sangat menyenangkan. Gw sangat menikmati kesunyian di sini. Super sepi, cocok buat menyendiri n cari inspirasi. Walaupun sempet serem juga waktu kami bertiga (gw, kakak, dan teman kakak) menumpang 2 motor menempuh perjalanan Kota Sabang ke Gapang dengan waktu tempuh 45 menit naik-turun bukit jalan berkelok dalam keadaan sepi dan tanpa penerangan jalan. Ironisnya, gw baca TL twitter, terjadi kemacetan luar biasa karena efek long week-end di daerah Bandung dan Jakarta.

Sayangnya gw ga sempet ke tugu Nol Kilometer, soalnya waktunya ga cukup n gw akhirnya memilih keliling Kota Sabang.

- Salah satu Bucket List gw adalah mengunjungi wilayah terdepan Indonesia: Sabang, Merauke, Miangas, Pulau Rote. Alhamdulillah dua terpenuhi.-

Di Pulau Rubiah, pemandangan Pantai Iboih

Travel Buddies

Kakak gw :D
Pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Weh
Salah satu peninggalan jaman kolonial, sekarang jadi RSU
Pohon-pohon Besar

Jalan besar di Kota Sabang nan Sepi
Pemandangan Banda Aceh dari Anoi Itam
Pantai Anoi Itam
Kota Sabang dari ketinggian
Rujak Sabang
Tangkapan Nelayan dekat Sumur Tiga
Peta Wisata Kota Sabang

Sunday, 1 July 2012

Dieng Trip

Dengan budget kurang dari 500 rebu, gw dan 6 orang lainnya berlibur ke Dieng. Kawasan Dieng merupakan dataran tinggi diatas ketinggian 2000MDPL, berbentuk Kaldera dan dikelilingi pegunungan.

Gw Memulai perjalanan via Wonosobo, dengan Bis Malam Malino Putra dari Rawamangun. Jangan harap kenyamanan dari bis ini. Tempat duduknya bikin tulang retak, alhamdulillah AC-nya lancar, dan lo akan dihibur playlist Dangdut Pantura dan lagu Malay tahun 90-an -__-"

Dari Terminal Wonosobo kami dijemput pihak penginapan yang merangkap Tour Guide. Sepanjang perjalanan Wonosobo-Dieng dihiasi perkebunan kentang, produksi pupuk, dan jalanan berkelok2. Masuk ke kawasan Dieng, gw seperti dibawa ke Dunia Lain. Ga bakal nyangka, tempat ini cuma 3 jam dari Semarang, bahkan ga nyangka tempat ini ada di Pulau Jawa. Aura-nya beda...bisa dibilang mistis.
Setelah Brunch, kami langsung diajak keliling Dieng. Mulai dari Telaga Warna, telaga berwarna turquoise dengan latar belakang kabut. Disini kami juga diajak mengunjungi situs2 berupa patung, yang gw ingat cuma patung Trimurti :D

Setelah berkeliling Telaga, kita diajak ke Dieng Plateau Theater, sambil nunggu antrian kita nyemil gorengan khas sini: Tempe Kemul, Kentang Goreng, n Jamur Goreng. Yummm!

Dieng Theater mirip2 Bioskop, Film yang diputar menceritakan terbentuknya Dieng. Sayang Filmnya 'low-buget' dan cenderung membosankan, jadi sebagian temen2 gw malah tertidur di teater itu...hahahaa...

Setelah itu, kita mengunjungi candi2 kecil dan kawah Sikidang. Sempat juga kita makan Mie Ongklok khas Dieng. Perjalanan ditutup dengan mengunjungi Candi Arjuna.

Keesokan harinya, jam 4 pagi kita udah mesti siap2 menndaki gunung bukit, untuk liat Sunrise dengan background Gunung Sindoro. Walaupun Sunrise ketutup kabut, cukup menyenangkan melihat Wonosobo dari ketinggian. Setelah itu kami kembali mendaki bukit di belakang Dieng Theatre, dari sini kita bisa nikmatin pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon bersebelahan.

Ada hal unik yang gw amatin, mereka sangat memuja Soeharto. Menurut pengakuan sang tour guide, di Jaman Soeharto kawasan Dieng ini sangat terawat...

Fenomena unik lain adalah anak-anak berambut gimbal, sejarahnya cukup panjang...tapi bisa di googling ndiri..hehehe.

Budget:
Berangkat Bis Malino Putra Rp. 76.000
Penginapan n Tour Guide Rp. 175.000
Bis Wonosobo-Semarang Rp.20.000 (kami pulang via semarang, krn mo city tour)
Bis Semarang-JKT (Nusantara) Rp 120.000
Tiket masuk candi, teater, n telaga Rp. 20.000
Jajan Rp. 50.000

Info:
Penginapan Lestari, Dieng: CP Pak Yanto:  +6285228272404


Perjalanan Wonosobo-Dieng
Gerbang Masuk Kawasan Dieng

Telaga Warna
Menunggu Sunrise with Sindoro background

Kawah Sikidang
Ride!
Mie Ongklok khas Dieng
Salah satu candi di Dieng
Komplek Candi Arjuna
Elang Jawa
Sunset at Arjuna

Dieng Trip Buddies :D
Telaga Warna & Telaga Pengilon

Tuesday, 3 January 2012

Sawarna: Simple yet Inspiring Journey

F#UI Traveling Club nomor 4 kali ini berangkat Ke Sawarna. Keempat??? emang kemarin-kemarin kemana aja??? Perjalanan perdana kami keliling Kota Tua sekalian mematangkan konsep club ini, perjalanan ke-2 adalah ke Pulau Seribu (gw ga ikut), Perjalanan ke-3 ke Gunung Gede.

Tim Sawarna kali ini terdiri dari gw, Eka, Ninis, Eric, Gifar, plus Tigor n Ulil. Hampir sama seperti Tim ke Gunung Gede, cuma minus akew n asep tapi plus Ulil n Tigor.

Rute berangkat kami melalui Tol Jagorawi-Sukabumi dan keadaan cukup lancar kami berangkat dari Depok jam 11 malam dan sampai di Sawarna sekitar pukul 7 pagi. Saat pulang kami mengambil rute yg berbeda via Serang dan Pandeglang dengan jarak tempuh lebih lama 2 jam.

Yang gw suka dari perjalanan jauh adalah momen-momen selama perjalanan. Apalagi perjalanan panjang 8-9 jam kaya gini, ditambah kita pake mobil pribadi, mau-ga-mau kita terlibat ato minimal mendengar percakapan yang terjadi. Ini juga bisa jadi Ice-breaking moment kalo dalam kelompok perjalanan ada yang belum saling mengenal.

Dengan mendengar temen-temen gw saling nyeletuk n 'diskusi sederhana' sepanjang perjalanan Depok-Sawarna-JKT aja gw udah sangat terhibur, paling gw nimbrung aja sesekali kalo percakapannya udah seru n bagian hina-dina orang....hehehe. Mungkin karena gw tipe observer--gw lebih seneng mengamati saja sambil pura-pura ketiduran dan denger iPod.

Anyway, kembali ke Sawarna. Selama di Sawarna kami sangat terhibur oleh Ombak-Ombak Pantai Selatan yang lumayan tinggi, pasir putih, goa, hamparan sawah. Selain itu juga makanan sederhana such as pisang goreng, es kelapa, n Indomie (?).

Well, Liburan kali ini bisa dibilang simple sih. Tapi kesempatan untuk keluar dari rutinitas kantor, ngobrol dengan temen-temen kampus, menikmati kesunyian desa Sawarna sambil having quality time with yourself (baca: merenung) dan tiba-tiba dapet inspirasi. Walaupun badan pegel-pegel, tapi pikiran Refreshed. Hal-hal seperti ini yang ga bisa lo beli. Priceless :)

Kembali lagi ke Filosofi Traveling menurut gw. Destinasi itu ga penting, (walaupun biasanya makin jauh perjalanan akan makin berkesan). Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa embrace every moments saat proses perjalanan itu terjadi: teman baru, makanan baru, pengetahuan baru, pemikiran baru, cara pandang baru, dll.

I Can't wait for the Fifth Destination of F#UI Traveling Club. Gosipnya sih pada mo Tour de Sumatra ke Padang-Medan. Mudah-mudahan bisa ikutan lagi :D


(See: Sawarna: How To Get There | untuk budget, rute, dan objek wisata)

Full Team (2 Laguna Pari)



Pantai Sawarna


Goa Lalay


Senja at Pantai Tanjung Layar


Jembatan menuju kawasan Sawarna


Pelangi at Pantai Tanjung Layar




Monday, 2 January 2012

The Hidden Paradise: Sawarna, Bayah, Banten, Indonesia (How to get there?)

Pantai Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Salah satu objek wisata pantai yang belum banyak didengar orang, tapi punya pemandangan yang ga kalah menarik dengan 'tetangga' nya Pelabuhan Ratu.

Butuh waktu 8 jam perjalanan dari Jakarta ke lokasi ini. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Pertama Melalui Tol Jagorawi, melalui Sukabumi melalui Cibadak-Cikidang-Pelabuhan Ratu-Cisolok-Bayah. Jalur dua melaui Tol ke Merak, arah Serang-Pandeglang-Banjarsari-Malingping-Bayah. Gw sarankan untuk yang bawa mobil pribadi untuk memilih jalur Sukabumi karena kondisi jalan lebih bagus. Secara di banten si At*t kagak becus ngurus (never ending) perbaikan jalan!! #ehh

Kalo mau pake sistem ngeteng, jalur sukabumi juga lebih manusiawi--dari Bogor naik MGI ke Pelabuhan Ratu (sukabumi) lanjur naik Elf ke Bayah atau Sawarna.

Budget yang harus disediakan juga ga mahal2 amat. Waktu itu gw pake mobil pribadi bersama 6 teman gw. masing-masing kami deposit Rp. 200.000 untuk semua biaya: Penginapan, bensin, makan, retribusi, cemilan, dll. Saat pulang 'deposit' kami sisa 50ribu (murah banget kan?!)
Objek-objek yang bisa dinikmati antara lain:
  1. Pantai Sawarna: Objek utama dan pusat desa. sebagian besar penginapan ada di pinggir pantai ini. pantai landai dan panjang. Disini kita bisa nyewa semacam papan surf mini. Kalo agak kere bisa langsung nyeur main2 ombak :D
  2. Pantai Tanjung Layar: Pantai yang didominasi sama bebatuan dan dihiasi 2 batu besar mirip2 uluwatu di Bali. Terletak sebelah kiri dari Sawarna bisa ditempuh sekitar 15 menit.
  3. Goa Lalay: Goa stalagtit dan sedikit stalagmit berjarak 20-30 menit jalan kaki dari pantai sawarna. Penuh dengan genangan air dan sarang kelelawar di ujung perjalanan.
  4. Pantai Lagun Pari: bisa ditempuh sekitar 30 menit via pantai. Pantai ini cenderung sepi, mungkin karena letaknya yang paling jauh dari Sawarna plus medan nya agak ribet via darat. Tapi pemandangannya lebih cantik dibanding Pantai Sawarna karena berbentuk laguna, berasa di pantai Pribadi.
Penginapan disini juga relatif murah. Waktu itu gw menginap di Homestay bu Widi, cukup denkat dengan Pantai Sawarna, makanannya enak, cukup bersih. Tarif menginap plus 3x makan Rp.100.000/orang. per kamar bisa diisi 4-6 orang.

Pantai ini Recommended lah untuk kumpul2 sama teman2 ato keluarga. Banyak juga genk touring yang berwisata ke Pantai ini, mungkin karena jalurnya yang 'menantang' buat kendaraan roda dua.

Harus Bawa:
1. Senter untuk di Goa lalay
2. Minimal 4 potong baju, karena bakal basah2an 2 hari full
3. Hansaplast (kemungkinan bakal lecet2 di Goa lalay)
4. Uang cukup (disana ga ada ATM!)


*To be continued to "Sawarna: The Journey"
For further story and photos





Friday, 8 July 2011

Miangas: an introduction and how to get there.

Setelah gw memamerkan foto-foto gw di Miangas, banyak yang tanya gimana caranya kesana? well now I will share it with you then...

Introduction
Bagi yang belum tahu Miangas itu dimana, gw cerita dulu yaa. Miangas adalah pulau kecil seluas 3 Kilometer persegi yang terletak di Sulawesi Utara. Walaupun pulaunya super kecil tapi ia punya keiistimewaan (in a positive and negative way). Pertama, pulau ini terletak di perbatasan antara Filipina dan Indonesia. Faktanya pulau ini lebih dekat ke Filipina dibanding negara kita sendiri lho!. Kedua, pulau ini sudah menjadi sengketa sejak zaman kolonial, antara Belanda (saat itu menguasai hindia atau indonesia) dan Amerika Serikat (saat itu menguasai Filipina). Namun melalui Mahkamah Internasional diputuskan Pulau ini milik Belanda dan hingga saat ini Indonesia 'mewarisi' pulau tersebut.


Kehidupan Masyarakatnya bisa dibilang cukup miris. Bahan makanan pokok sulit didapat, mengingat tidak setiap saat akses transportasi dari pulau terdekat di Indonesia masuk ke pulau ini. Kebayang ga, satu-satunya penghubung dengan pulau terdekat (indonesia) adalah kapal laut dan kapal perintis yang hanya masuk 2 minggu sekali kesini. Tak jarang masyarakatnya harus berbelanja ke negara tetangga yang dapat ditempuh dalam waktu lebihsingkat. Barang-barang yang masuk pun tak bisa sembarangan dan dijaga ketat oleh militer dengan alasan Miangas adalah salah satu jalur masuk Teroris dari Filipina.

Mata pencaharian utama masyarakatnya adalah nelayan, tapi jika BBM mulai langka atau ada kejadian harga BBM pernah melambung hingga Rp.25.000/per liter mereka hanya bisa mengandalkan Kopra sebagai sumber penghasilan yang tak seberapa.

Walaupun begitu, pulau ini memiliki pemandangan laut dan pantai yang sangat indah. Disini kita bisa menikmati view laut pasifik dan pasir putih. Di pulau ini juga kita bisa lihat tugu atau monumen yang dibangun oleh pemerintah. Lo bisa lihat Monumen Santiago dekat dermaga, monumen paling baru yang dibuat pemerintah. Dua tugu lainnya bisa dilihat di sisi pantai yang lain. Katanya sih ada 7 tugu di pulau ini, tapi gw cuma ketemu 3 saja.

Hal lain yang bisa dilakukan, tentunya bercengkerama dan berdiskusi dengan warga sekitar. Mereka cukup welcome kalau ada orang luar Miangas yang berkunjung kemari. Kalian bisa berdiskusi dengan masyarakat asli sana tentang sejarah pulau ini dan kehidupannya. Gw yakin setelah itu kalian makin aware sama issue perbatasan dan makin bersyukur dengan hidup kalian. Ini salah satu hal yang gw suka ketika Traveling, you learn something from the journey, dari orang-prang baru yang lo temui especially local people. So ketika pulang lo ga cuma sekedar pamer foto dan cerita udah pernah jalan-jalan kesana. Gw aja yang cuma bersandar 2 jam disana masih terkenang-kenang perjalanan itu. Apalagi yang punya kesempatan untuk menginap disana ?



How to get there?
Jika lo berangkat dari Jakarta, perjalanan bisa ditempuh dengan pesawat ke Manado terlebih dahulu. Dari sini dapat dilanjutkan dengan Kapal Laut dari pelabuhan Bitung, dari Manado bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar 2 jam. Dari pelabuhan Bitung lo harus menempuh 3 hari perjalanan untuk sampai ke Pulau Miangas (seru kan perjuangannya :p ). Kalo mo lebih seru lagi yaa naik kapalnya dari JKT a.k.a Tanjung Priok ke Bitung (4 hari 3 malem) trus lanjut dengan kapal lain (3 hari 2 malam). *jangan pingsan duluuuu...

Pilihan lain, jika punya budget lebih lo bisa langsung naik Lion Air mengambil tujuan JKT-Melonguane, yang biasanya berangkat hari Sabtu. Melonguane adalah satu-satunya ibukota kabupaten di kepuluan talaud yang memiliki bandar udara. Nah, dari sini pun lo tetep harus meneruskan perjalanan dengan kapal laut selama semalam untuk sampai ke Miangas. dari melonguane lo mesti naik semacam speedboat ga sampe 15 menit untuk ke pulau tetangga, karena kapalnya bersandar di pulau lain.

Alternative Transportation:
Kapal PELNI:
Tg.Priok-Bitung (manado)
Bitung-Miangas
(tarif bervariasi, soalnya ada 4 macam kelas plus Full AC)
info:
www.pelni.co.id (call centre: 021-79180606)
Pelni Tg.Priok: 021-43933196
Pelni Bitung: 0438-33848/31818

Kapal Perintis Meliku Nusa:
Bitung-Miangas
(sekitar 100-150 ribu, kelas ekonomi ga ada AC)

Pesawat:
LION AIR JKT- Melanguane
LION AIR Manado-Melanguane (sekitar 700-800 ribu)
www.lionair.co.id

Taksi plat hitam:
Bandara Manado (sam ratulangi)-Pelabuhan Bitung
bisa lo temui saat keluar bandara, biasanya Avanza warna abu-abu atau hitam.

Penginapan:
Jika mesti menginap di hotel karena menunggu jadwal kapal, gw sarankan kalian menginap di dekat pelabuhan Bitung, rate nya sekitar 100-150 ribu.

Untuk menginap di Miangas bisa menumpang dengan warga sekitar, tapi harus inget etikanya: bawa kebutuhan sembako ata uang untuk ucapan terima kasih.

*untuk cerita perjalanan gw,bisa liat di posting gw Miangas Assignment: The Unt*ld Stories

Friday, 10 June 2011

Conquering (MySelf at) Gunung Gede Part 1 (From Jkt to Kandang Badak)


-->
Sudah seminggu yang lalu gw menyelesaikan perjalanan gw ke Gunung Gede. Pegel-pegelnya masih berasa, begitu juga pengalamannya begitu membekas dihati. *alaahhh.

Perjalanan ini sangat berkesan terutama bagi sebagian besar orang dari kami yang baru pertama kali naik gunung atau yang sudah lama ga naik gunung dan ga sadar umur… *tunjuk tangan* hahaha…



Rencana perjalanan ini tercetus dari salah satu status FB anggota ‘ embrio’ Klub Jalan-jalan Alumni FEUI yang ngiri sama anggota lain yang pada sibuk jalan sendiri. Tim ini terdiri dari delapan orang, tiga orang cewek dan lima orang cowok dengan latar belakang berbeda-beda. 2 orang pegawai BUMN, 1 orang PNS, 1 orang preman tanah abang, 1 orang pegawai swasta, 1 orang mahasiswa, dan 1 orang yang baru jadi pengangguran bermartabat (soalnya nganggur karena kehendak sendiri, bukan di pecat…hehehe).

Overprepared?
Setelah kesepakatan dan diskusi di Status FB salah satu anggota klub, Akew ketua Tim perjalanan mulai ngasih kita direction mengenai persiapan pendakian Gunung. Dia message kami melalui FB tentang daftar barang yang harus dibawa, gw kebingungan sendiri, melototin daftar barang bawaan sampe dua lembar begitu?! sampe segitunya kah harus bawa sleeping bag, matras, peniti, kapas, ini mo ke Rinjani apa Gede sih? Perasaan ga segitunya deh. Gw sempet kesulitan mencari jaket tebal dan ponco buat pengganti raincoat. (dan baru nyadar pentingnya barang-barang itu waktu diatas gunung..hehe..maap ya kew).

Tiga Kloter keberangkatan
Keberangkatan awal Tim ke cibodas (pos awal Gn Gede) ini dibagi menjadi 3 kloter. Pertama si Akew yang harus ngejar waktu biar bisa daftar sebelum jam 16.30 sore supaya kita bisa mulai naik malam hari) kloter 2 ( Gw, Fajar, Eka dan Ninis) tim yang males ikut akew dan ga tergoda sama rayuan ketua Tim 3 Eric yang nyogok Magnum kepada siapapun yang mo ikut sama dia brangkat sore. 2 orang yang kena rayuan eric adalah Asep dan Gifar (padahal sampe sekarang magnumnya blom dibayar -_- )

Kloter gw mulai naik bis dari kampung rambutan dengan kemacetan yang luar biasa. Mulai dari efek long weekend sampe efek Wakil presiden yang ternyata sedang ada acara di sekitar Puncak. Peraturan yang tidak membolehkan kendaraan ukuran besar melalui jalur puncak, membuat bis yg gw tumpangi harus muter2 untuk mencari jalan tikus. Alhasil kami baru sampe sekitar jam 7 malam. Sampe cibodas kami langsung mencari ketua tim kami Akew, kita menemukan akwe tertidur di bangku salah satu warung berbantal backpack sambil megang Al-Quran yang gw rasa udah khatam 3x saking lamanya nunggu kita..hahaha.

Sambil mengisi perut dengan makan indomie+nasi+lauk dari ibu, kami pun mengobrol sambil menunggu tim kloter 3. Mereka datang satu jam kemudian. Setelah semua tim sholat dan makan, kami memutuskan menginap di warung makan yang memang menyediakan ruangan khusus untuk bermalamnya para pendaki gunung.

(BadNews, karena hari ini hari libur, maka pos pendakian tutup lebih awal jam 15.30, maka kamipun harus delay keberangkatan menjadi besok pagi saat Pos Pendakian kembali buka jam 9)

Sebelum tidur, akew sang ketua tim m'briefing kami untuk keberangkatan esok hari. Setelah briefing ternyata sebagian besar dari kami belum ngantuk, kami pun tenggelam dalam aimless conversation yang sangat seru. Mulai dari ngegosipin temen2 kami yang mo nikah, Curcol nya pegawai BUMN dan PNS, konfirmasi sang ketua tim atas masa lalu nya (hahaha), sampe karakter psikologi sanguinis-melankolis-pragmatis-plegmatis yang diperkenalkan oleh eric. Sekitar jam setengah satu pagi satu persatu anak mulai tertidur.

Let the Journey begins!
Sesudah sholat subuh,sarapan, repacking barang bawaan, dan mandi bebek (kenapa gw sebut bebek? karena SUMPAH AIRNYA DINGIN BANGET! gw pun hanya berani cuci muka dan ciprat sana-sini) maka kami berangkat ke pos pendakian sekitar jam 9 pagi. Setelah Agak lama menunggu akew di pendaftaran kami pun memulai perjalanan! (baru jalan seratusan meter kok gw udah ngos-ngos n keringetan yak *hoshh hoshhh)

Track pertama gunung ini masih berbaik hati memberikan tangga2 yang terbuat dari batu, jembatan dari kayu-kayu., dan jalan yang masih terhitung landai. Sekitar satu jam perjalanan, track mulai berbentuk jalan kecil dari batu2.

Pemandangan pertama yang kami lihat adalah telaga biru. Ga bisa lama-lama disini dan berfoto2 karena kami harus kejar waktu utk sampai pos kandang badak sebelum gelap. Sekitar 3 jam kemudian kami sampai di pos pertama: Panyancangan. Istirahat dengan nutrijell buatan Eka dan peregangan otot yang dipimpin kang Asep, kami siap brangkat kembali ke pos selanjutnya, Pos Air panas.

Pos Air Panas. Spot ini adalah spot yang cukup menegangkan, karena kita harus berjalan diatas aliran sungai airpanas (Banget!) plus kadang dengan jarak pandang minim dan bertumpu pada batu-batu kali, sementara sebelah kanan kami hanya jurang menganga yang dilindungi tambang2 terbuat dari besi.

Disini ketakutan pertama gw diuji, takut sama ketinggian, gw takut banget kepeleset dari batu yang membuat gw sempet berhenti lama, sampe akew yang jalan dibelakang gw harus nyusul duluan untuk nunjukin jalur batu-batu aman.

Sekitar jam 3 sore kami akhirnya sampai di Di pos air Panas. Disini kami istirahat cukup lama untuk sholat dan menghangatkan badan dengan air jahe. Fajar dan akew harus berangkat duluan untuk membuat tenda di Pos Kandang Badak. Disini gw pun menyempatkan diri merendam kaki, cuci muka, dan wudhu dengan aliran air panas dari sungai kecil itu.Segerrrr...!

Ketika akan berangkat menyusul akew dan fajar, hujan turun makin deras--kamipun men-delay perjalanan. Sekitar pukul 4 sore setelah hujan agak reda kami berenam meneruskan perjalanan ke Kandang badak. Karena kami khawatir hujan akan turun lebih deras, kami harus memakai raincoat/ponco dalam perjalanan ini. Dalam keadaan badan yang basah dan capek, ditambah track yang licin, naik-turun, becek, dan jalur yang kadang tidak terlihat--gw bener bener hopeless. Ditambah lagi langit yang makin gelap dan waktu menunjukkan pukul stengah 6 tapi kami ga kunjung sampai ke kandang badak. Saat break terakhir (sebelum sampai kandang badak), entah kenapa tiba2 perjalanan dimudahkan, track-nya makin landai dan perjalanan cukup ringan dan anehnya ga ada dari kami yang minta break dalam waktu yang lama, kalo ga salah itung2 ini kayanya rally terpanjang kita. Dalam keadaan yang bener2 hopeless dan langit udah bener2 gelap (hampir kita ngeluarin senter untuk bantuan penerangan) tiba2 kita nemu palang besi informasi yg cukup gede : kita sampe KANDANG BADAK!!! Reflek lah anak2 manggil2 (baca : teriak) akew dan fajar diantara tenda-tenda pendaki, ga sabar rasanya menemukan tenda secara kita udah basah n kedinginan. Setelah buat keributan diantara tenda-tenda pendaki, kami melihat fajar memanggil kami. Finally!!!

*Off The Record sindrom drama queen gw keluar, gw agak mewek karena perubahan emosi yg drastis dari Totally Hopeless ke RELIEVE* (drama queen bgt kan?)
~Bersambung~